Rabu, 15 Juli 2009

Semangkuk Bakmi Panas

Pada malam itu Ana bertengkar dengan ibunya.

Karena sangat marah, Ana segera meninggalkan rumah tanpa membawa apapun.

Saat berjalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tidak membawa uang.


Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai bakmi dan ia mencium harumnya aroma masakan.

Ia ingin sekali memesan semangkuk bakmi, tetapi ia tidak mempunyai uang.
Pemilik kedai melihat Ana berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata,
"Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi?"
"Ya, tetapi, aku tidak membawa uang." jawab Ana dengan malu-malu

"Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu. " jawab si pemilik kedai,
"Silahkan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu".
Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi.

Ana segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang.

" Ada apa, nona?" tanya si pemilik kedai.

"Tidak apa-apa. Aku hanya terharu. jawab Ana sambil mengeringkan air matanya.

"Bahkan seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi!,
tetapi, ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi ke rumah.

Kau, seorang yang baru kukenal, tetapi begitu peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri." katanya kepada pemilik kedai.

Pemilik kedai itu setelah mendengar perkataan Ana, menarik nafas panjang dan berkata "Nona mengapa kau
berpikir seperti itu?

Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu.

Ibumu telah memasak bakmi dan nasi untukmu saat kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya?

Dan kau malah bertengkar dengannya."

Ana terhenyak mendengar hal tersebut.
"Mengapa aku tidak berpikir tentang hal tersebut? Untuk semangkuk bakmi dari orang yang baru kukenal, aku begitu berterima kasih, tetapi kepada

ibuku yang memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya.

Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya.
Ana segera menghabiskan bakminya, lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya.

Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yang harus diucapkan kepada ibunya.

Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas.
Ketika bertemu dengan Ana, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah:

"Ana, kau sudah pulang, cepat masuklah, aku telah menyiapkan makan malam dan makanlah dahulu sebelum kau tidur, makanan akan menjadi

dingin, jika kau tidak memakannya sekarang".
Pada saat itu Ana tidak dapat menahan tangisnya dan ia menangis di hadapan ibunya.

Sekali waktu, kita mungkin akan sangat berterima kasih kepada orang lain disekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikan kepada kita.
Tetapi kepada orang yang sangat dekat dengan kita (keluarga) , khususnya orang tua kita, kita harus ingat
bahwa kita berterima kasih kepada mereka seumur hidup kita.

RENUNGAN:

BAGAIMANA PUN KITA TIDAK BOLEH MELUPAKAN JASA ORANG TUA KITA.

SERINGKALI KITA MENGANGGAP PENGORBANAN MEREKA MERUPAKAN SUATU PROSES ALAMI
YANG BIASA SAJA, TETAPI KASIH DAN KEPEDULIAN ORANG TUA KITA ADALAH HADIAH PALING BERHARGA YANG DIBERIKAN KEPADA KITA SEJAK KITA

LAHIR.
PIKIRKANLAH HAL ITU !

APAKAH KITA MAU MENGHARGAI PENGORBANAN TANPA SYARAT DARI ORANG TUA KITA?

HAI ANAK-ANAK, TAATI DAN HORMATILAH ORANG TUAMU DALAM KESEHARIANMU, KARENA ITULAH HAL YANG TERINDAH DIMATA TUHAN.



Jika Anda mendapat pencerahan dari tulisan diatas, maka bagikan juga kepada handai taulan Anda!

Jumat, 10 Juli 2009

Doa saat sulit

Jika kita mengalami cobaan berat dan kesulitan hidup, yang begitu menghimpit dan menyesakkan dada, kita cenderung berdoa dan minta kepada Allah Bapa dan Allah Putra supaya memberikan mujizat dengan menghilangkan cobaan dan kesulitan kita dengan instant.
Dan ketika mujizat itu tidak kunjung datang, kita menjadi kecewa dan putus asa dan yang lebih berbahaya adalah kita cenderung menyalahkan Tuhan.

Cara Allah bekerja tidaklah sama dengan cara manusia berpikir, tetapi satu yang pasti adalah Allah tidak akan membiarkan kita sendirian dalam menghadapi kesulitan kita. Tangannya yang penuh kuasa pasti menolong kita. Itu adalah suatu kepastian yang tidak tersangkalkan, karena Allah berjanji sendiri kepada kita dan Allah setia akan janjinya dan janjiNya adalah kekal.

Ada perumpamaan mengenai seorang Nahkoda yang sedang berlayar dengan kepalnya mengarungi lautan luas. Ketika di depan terlihat sebuah batu karang yang besar yang dapat mengkaramkan kapalnya, maka diapun berdoa kepada Tuhan. Kebanyakan dari kita akan berpikir bahwa nahkoda itu akan berdoa meminta mujizat agar batu karang itu dihilangkan dari laut yang akan dilaluinya. Tetapi dalam doanya Nahloda itu meminta agar Tuhan menambahkan air laut sebanyak mungkin sehingga melampaui tinggi batu karang itu sehingga kapalnya bisa melalui batu karang itu dengan selamat. Air laut disini adalah kasih Allah.

Jadi jika kita mengalami cobaan berat, kita tidak perlu meminta mujizat dari Allah, tetapi cukup kasih Allah dan penyertaan Allah yang berlimpah agar menguatkan kita sehingga kita bisa melalui cobaan dan kesulitan kita dengan tegar dan penuh kelegaan dan kerelaan. JIka Allah memberikan mujizatnya, maka itu adalah tambahan berkat yang besar kepada kita dan dengan demikian Kasih Allah yang berlimpah dinyatakan dalam diri kita.

Bagaimana kita mendapatkan air laut atau kasih Allah yang berlimpah agar kita bisa melalui cobaan dan kesulitan kita? Dengan mendekatkan diri dalam doa, dan membiarkan Allah bekerja dalam diri kita. Maka cobaan dan kesulitan itu dapat kita lalui dengan kelegaan karena kepada Yesus, Allah Bapa telah memberikan kuasa atas Surga dan Bumi.